Senin, 21 Maret 2011 00:38
Bocah 9 Tahun Tewas Usai Diperkosa
Merauke- Bejat dan Biadab. Itulah kata yang pantas dialamatkan kepada pria yang satu ini. Betapa tidak, gara-gara perbuatan bejatnya, seorang bocah 9 tahun harus menghembuskan nafas terakhirnya setelah diperkosa oleh pelaku. Ya, malang betul nasib seorang bocah bernama Melati (bukan nama sebenarnya, red), warga Kampung Onggaya, Distrik Noukenjerai, Kabupaten Merauke. Pasalnya, Bocah berusia 9 tahun itu, tewas di RSUD Merauke, Jumat (18/3) lalu setelah mengalami pendarahan akibat diperkosa pelaku berisial SU (20), warga Jalan Mopah Lama, Merauke. Saat dikonfirmasi Kapolres Merauke AKBP Djoko Prihadi, SH melalui Kasat Reskrim AKP Dedi Dharmawansyah, SIK, ia membenarkan kematian korban akibat pendarahan. Kronologisnya sendiri terjadi pada hari Kamis (17/3) sekitar pukul 00.30 WIT di kediaman korban. Dimana, saat jam tersebut orang tua korban bernama M. Senen melihat sang anak tidak berada di kamarnya. Padahal hari sudah sangat larut, dan waktunya orang untuk beristirahat. Karena mencari sang dara tidak juga ditemukan, lantas ayah korban pun berinisiatif melaporkan ketiadaan putrinya kepada Kepala Kampung Onggaya, Bambang S. Usai melaporkan, ayah korban, kepala kampung dan warga lantas melakukan pencarian di daerah sekitar kampung. Dan, sekitar pukul 02.30 WIT pencarian itu membuahkan hasil karena korban berhasil ditemukan di salah satu tempat di Kampung Onggaya.
Saat ditemukan, korban dalam kondisi tidak sadar dan tanpa mengenakan busana yang dipakai sebelumnya. “Setelah ditemukan korban langsung dipapah ke Puskesmas setempat. Tapi karena kondisinya yang parah, pihak Puskesma merujuk ke RSUD untuk mendapatkan perawatan intensif. Tapi takdir berkata lain sekitar Jumat pukul 05.30 WIT, korban mengembuskan napas terakhirnya,”kata Dedi kepada wartawan di ruang kerjanya, Sabtu (19/3).
Lanjutnya, karena pihak keluarga tidak terima baik atas perbuatan pelaku yang telah menyebabkan kematian putrinya, lantas melalui Kepala Kampung kejadian itu dilaporkan untuk mencari keberadaan pelaku dan memprosesnya secara hukum.
“Kasus ini sementara kami lidik pelakunya untuk segera ditangkap dan diproses hukum. Pelaku sendiri dijerat pasal persetubuhan terhadap anak dibawah umur yang menyebabkan kematian korban,”terang Dedi mengakhiri. (http://www.bintangpapua.com | lea/don/03)
Senin, 21 Maret 2011
Bocah 9 Tahun Tewas Usai Diperkosa
Diposkan oleh meraukepos jam 21:00
Label: merauke, pemerkosaan
Minggu, 20 Maret 2011
Wabup Merauke: Kami Akan Telaah Hutang Bawaan Rp 71 Miliar
Minggu, 20 Maret 2011 21:34
Wabup Merauke: Kami Akan Telaah Hutang Bawaan Rp 71 Miliar
Jangan Karena Hutang Bawaan Kepala Daerah Jadi Terjerat Sendiri
Merauke- Wakil Bupati Kabupaten Merauke Sunarjo, S.Sos mengatakan, semua mekanisme pengelolaan keuangan terikat erat dengan aturan yang berlaku. Begitupun dengan masalah hutang bawaan, dimana ketika hutang tersebut menjadi suatu hal yang sangat emergency, maka bisa dipertanggung jawabkan oleh pemerintah. Sebaliknya, jika hutang yang dimaksud itu tidak dilengkapi dokumen yang legal, pemerintah tidak akan membayar karena justru akan menjerat pihak pemerintah sendiri jika merujuk pada aturan yang ada.
Hal tersebut disampaikan Wabup berkaitan mekanisme pembayaran hutang bawaan Pemda Kabupaten Merauke sebesar Rp 71 miliar yang terjadi di zaman mantan kepala daerah sebelumnya. “Ya kalau situasinya emergency, maka siap dipertanggungjawabkan. Tapi kalau itu tidak dilengkapi dokumen, kan justru akan menjerat kita sendiri,” ungkapnya kepada wartawan saat ditemui di Hotel Itese, Merauke Sabtu (19/3).
Ditegaskan, berkenaan dengan hutang bawaan itu, saat ini ia bersama Bupati sedang menelaahnya lebih intens lagi. Ia juga mengatakan, hutang bawaan yang dimiliki setiap SKPD pun pembayarannya harus merujuk pada aturan yang berlaku tersebut. “Jadi kita harus kroschek lagi, berkasnya ada nggak? Dan pastinya kita merujuk pada aturan, dimana kita harus melihat lagi hutang itu dari sisi kegunaannnya, apakah bersifat force major atau hanya sekadar kepentingan sesaat saja. Karena kita harus ikuti mekanisme, seperti berkas dokumennya harus lengkap dan jelas,”akunya. Secara pasti Wabup meyakini jika hutang bawaan yang ada itu memiliki dokumen yang lengkap dan jelas, tidak ada alasan untuk tidak bisa dibayarkan. Namun, sebaliknya pemerintah tidak akan mempertanggungjawabkan kalau hutang itu tidak dikuatkan dengan dokumen yang dimaksud.
Dalam kesempatan itu Wabup juga menyampaikan soal hutang bawaan yang bisa menjerat kepala daerahnya, dimana dari 300 kepala daerah di Indonesia ada sekitar 158 kepala daerah yang sudah berurusan dengan pihak KPK. Dengan demikian, ia berharap Kabupaten Merauke jangan sampai terjerat seperti itu.
“Kami tidak menginginkan Merauke seperti itu, karena harapan kami dipilih oleh masyarakat untuk memimpin daerah ini, ya untuk bagaimana berbuat yang terbaik bagi masyarakat dan daerah dengan tidak perlu mengkamuflase apa yang sebenarnya terjadi,” tandasnya. (http://www.bintangpapua.com | lea/don/erick)
Diposkan oleh meraukepos jam 22:59
Label: merauke, Wakil Bupati
Jumat, 18 Maret 2011
Pembangunan Pasar di Kampung untuk Pertumbuhan Ekonomi
Jumat, 18 Maret 2011 21:34
Pembangunan Pasar di Kampung untuk Pertumbuhan Ekonomi
Merauke- Salah satu program penting dari Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Kesejahteraan Keluarga Provinsi Papua, yaitu pembangunan pasar yang ada di wilayah kampung-kampung di seluruh Papua. Hal itu disampaikan Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Kesejahteraan Keluarga Provinsi Papua, Drs. Max Kambuaya kepada wartawan saat meninjau lokasi pembangunan pasar di Kampung Waninggap Say, Distrik Tanah Miring, Jumat (18/3) siang.
Menurut Max, tujuan pembangunan pasar di wilayah kampung sendiri bukan saja sebagai sarana aktivitas jual beli, namun juga menumbuhkan ekonomi yang ada di kampung, terutama ekonomi keluarga.
“Jadi dengan adanya pasar mereka bisa menjual hasil bumi yang ada untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” ujarnya. Dengan adanya pertumbuhan ekonomi keluarga, diyakini Max secara langsung dapat berpengaruh signifikan bagi perekonomian kampung. Pasalnya, kata dia, selama ini khalayak selalu berbicara soal masyarakat maju dan masyarakat berkembang. Namun untuk mewujudkan semua itu, sambungnya, harus dimulai terdahulu dari komunitas terkecil, yakni keluarga.
“Ya segala sesuatu kita harus mulai dari lingkup terkecil dulu, yaitu keluarga. Karena kalau keluarga kita sudah baik dan sejahtera, maka masyarakat pun akan sejahtera,” tuturnya beralasan, hal ini terkait dengan tugas Badan Pemberdayaan yang mendorong masyarakat mulai dari keluarga, rumah tangga, kampung untuk lebih baik lagi,”tandasnya.
Sementara itu dari data yang dihimpun, pembangunan pasar di Kampung Waninggap Say ini menelan dana sekitar Rp 119 juta. Berdiri di lahan seluas 1 hektare, pasar tersebut rencanannya akan dibangun pula atas partisipasi masyarakat kampung setempat.
“Partisipasi masyarakat itu perlu digalakkan, karena barometer kemajuan suatu kampung itu terlihat dari besarnya bentuk partisipasi masyarakatnya,”pungkasnya. (http://bintangpapua.com | lea/don/erick)
Rabu, 16 Maret 2011
Satuan Radar Sebagai ‘Mata dan Telinga’ TNI AU
Rabu, 16 Maret 2011 16:45
Satuan Radar Sebagai ‘Mata dan Telinga’ TNI AU
Merauke - Kepala Staf TNI AU Marsekal TNI Imam Sufaat, S.IP mengatakan, kehadiran Satuan Radar 244 Merauke diharapkan menjadi solusi yang tepat serta dapat menjadi “mata dan telinga” TNI AU dalam mendeteksi pelanggaran wilayah udara di wilayah timur Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal tersebut disampaikan Kasau pada peresmian Satuan Radar 244 Merauke di Kampung Taram, Kelurahan Rimba Jaya, Kabupaten Merauke Rabu (16/3) pagi.
Dijelaskan marsekal bintang empat itu, ditempatkannya Satuan Radar di Kabupaten Merauke sendiri lantaran mencermati situasi dan kondisi serta kerawanan wilayah udara bagian timur NKRI terhadap pelanggaran udara. Sebab itu, sambungnya, perlu untuk mengembangkan kekuatan pertahanan udara agar dapat meningkatkan kemampuan pengawasan udara di wilayah ini secara terus menerus. “Untuk itu Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) bersama jajarannya menindaklanjuti dengan konsep strategis gelar Kosek Hanudnas IV di wilayah timur NKRI, mengingat di wilayah ini juga terdapat sejumlah objek vital nasional (obvitnas) dan merupakan jalur penerbangan internasional,” terang Kasau.
Lebih gamblang dioperasionalkannya Satuan Radar beserta sarana dan prasarananya, maka program pembangunan radar pertahanan udara (Hanud) yang direncanakan TNI AU, menunjukkan upaya selangkah kedepan dalam pemantapan sistim pertahanan udara nasional. Lantas, keberhasilan pelaksanaan tugas pertahanan udara, selain membutuhkan alat utama sistem senjata udara yang modern, sangat ditentukan pula oleh profesionalisme dari personel yang mengawaki sistem senjata udara, baik dalam pengoperasian dan pemeliharaan peralatan, maupun mekanisme komando dan pengendalian yang harus dilaksanakan dengan cepat dan tepat.
“Kesiapan operasional merupakan modal utama untuk mencapai keberhasilan pelaksanaan tugas, karenanya upaya-upaya untuk mewujudkan kesiapan operasional yang tinggi harus selalu mendapatkan prioritas utama,” ujar Kasau dalam sambutannya.
Tuntutan kesiapan operasional sendiri, kata Kasau, tidak hanya ditujukan pada kesiapan peralatan saja, akan tetapi juga kesiapan personelnya yang mencakup fisik, mental serta pemahaman tugas dan tanggung jawab masing-masing.
“Jadi saya ingin berpesan kepada Satuan Radar 244 Merauke agar mampu membina serta meningkatkan kemampuan operasionalnya sehingga berdayaguna dan berhasil dalam pencapaian tugas pokok,”pesannya.
Sekadar diketahui Satuan Radar 244 Merauke merupakan satuan radar baru di jajaran Kosek Hanudnas IV Biak yang pembangunannya sudah dimulai sejak tahun 2008. Satuan Radar ini berdiri di lahan seluas 17,5 hektar yang merupakan lahan hibah dari Pemkab Merauke. sedangkan peralatan radar sendiri dibeli di Perancis dengan menggunakan dana APBN.
Peresmian yang ditandai dengan pembukaan selubung papan nama serta penandatanganan prasasti oleh Kasau, juga dilakukan pelantikan Komandan Satuan Radar 244 Merauke yang diembankan kepada Letkol Lek Budi Santoso.
Acara yang dihadiri Ketua Umum PIA Ardhya Garini, Ny Imam Sufaat, rombongan Asisten Kasau, Muspida Kabupaten Merauke kemarin, berlangsung dengan dinamis. Dalam kesempatan itu Kasau juga memberikan bantuan dana untuk pembangunan musholah serta perangkat komputer guna melengkapi operasional Satuan Radar 244 Merauke. (http://bintangpapua.com | lea/don/eric)
Lima Bulan Bertugas, Aman dan Terkendali
Rabu, 16 Maret 2011 16:45
Lima Bulan Bertugas, Aman dan Terkendali
Kurang lebih lima bulan melaksanakan tugas operasi pengamanan perbatasan (Pamtas) RI-PNG di wilayah Kabupaten Merauke, tak ada kendala signifikan yang ditemui jajaran Satgas Yonif 132/Bima sakti, Riau. Selain itu, pun selama berpijak di beranda terujung timur NKRI, banyak pengalaman serta kesan yang diperoleh punggawa baret hijau di Tanah Animha ini.
Batalyon infanteri (Yonif) 132/ Bima Sakti Bangkinang, Riau adalah salah satu satuan tempur organik milik Kodam I Bukit Barisan yang kurang lebih lima bulan ini, diamanahkan menggantikan Satgas Yonif 753/AVT Nabire dalam menjaga wilayah perbatasan RI-PNG di Kabupaten Merauke. Untuk wilayah Papua sendiri bukan medan tugas baru bagi prajurit Yonif 132/BS, pasalnya tahun 2002-2003 Yonif 132/BS pernah bertugas di wilayah Jayapura.
“Jadi untuk Papua ini bukan yang pertama kali, karena kami pernah tugas juga tapi di daerah Jayapura. Hanya saja saat itu saya belum jadi Danyon nya,”ujar Dan Satgas Yonif 132/BS, Letkol Inf M. Syeh Ismed yang didampingi Wadan Satgas, Kapten Inf Didik Efendi kepada Bintang Papua saat bincang-bincang di Komando Utama Satgas Yonif 132/BS Jalan Nowari, Rabu (16/3) sore.
Ismed menjelaskan, Satgas Pamtas yang dikomandonya ini berkekuatan 650 personel, yang mana mereka tersebar di 19 pos menyesuaikan 19 patok perbatasan yang berada diantara Kabupaten Merauke dan Papua New Guinea, yakni mulai dari daerah Muting hingga Kondo yang merupakan pos terjauh. Menjadi tentara yang diperintahkan bertugas di wilayah perbatasan Indoensia-PNG ini, lebih kepada sebuah pengabdian. Ujian selama di lapangan pun tidak ringan, seperti putusnya komunikasi dengan dunia luar hingga menaklukkan kondisi cuaca dan medan yang menantang. Berbicara soal logistik, memang menjadi masalah utama di perbatasan. Pasalnya, bila logistik tersendat akan sangat berpengaruh pada kinerja mereka dalam mengamankan batas-batas Negara.
“Tapi syukur alhamdulilah selama ini tidak ada kendala yang signifikan dalam masalah dorongan logistik ke pos-pos yang ada. Meski medannya cukup menantang, seperti kondisi jalan yang berlumpur, tapi kami masih bisa melakukannya dengan baik,”aku jebolan Akademi Militer 1993 ini.
Lebih tegas tugas pamtas yang dilakukan para bhayangkari Negara itu, diakui Ismed, merupakan kebanggaan dan kehormatan bagi seorang anggota TNI. Karena itu, apapun kondisi lapangan dan segala keterbatasannya tidak berpengaruh bagi tugas yang diamanahkan ke jajaran Satgas Yonif 132/BS.
“Motto kami dalam bertugas adalah selalu tersenyum. Dengan senyum dapat meringankan beban tugas meskipun seberat apapun,” kata Ismed tersenyum.
Jika sebagian masyarakat mengenal tentara sebagai prajurit yang siap bertempur membela negara. Berpakaian loreng hijau dan selalu membawa senjata. Tapi ada kalanya prajurit TNI juga harus mengajar di sekolah yang minim guru, membantu masyarakat dalam memberikan pelayanan kesehatan. Dan, ini merupakan pengalaman bagi para prajurit ketika berada di medan tugas. Mengajar dilakukan karena daerah tempat mereka bertugas mengalami kekurangan tenaga guru. Begitupun dengan tenaga kesehatan, sehingga personel kesehatan yang berada di setiap pos acapkali menjadi tumpuan warga setempat untuk berobat.
“Jadi selain melaksanakan tugas pokok menjaga perbatasan, kami juga melakukan kegiatan dalam rangka pembinaan pendekatan serta membangun kebersamaan dengan masyarakat perbatasan maupun di daerah yang menjadi tanggungjawab kami. Sebab itu dengan modal ilmu yang dimiliki, ada anggota kami yang mengajar. Dan, masyarakat pun terkadang datang ke pos minta bantuan lainnya, seperti bahan makanan. Ya, bag kami selama kami bisa membantu dan tidak bertentangan dengan tupoksi TNI, ya akan dilakukan,” kata lelaki asal kota pantun Riau ini bijak.
Bagi ayah tiga orang anak itu, selama ini pihaknya selalu mengedepankan persuasif dalam segala hal agar tercipta kebersamaan yang baik dengan masyarakat. Dengan begitu, sambungnya, akan sangat berguna bagi keberadaan pihaknya saat bertugas maupun ketika meninggalkan tempat tugas yang menuai kesan baik bagi masyarakat yang ditinggalkan.
Ismed mengakui, sampai saat ini belum ada masyarakat yang menyerahkan senjata kepada pihaknya. Meski begitu, penggalangan tetap dilakukan tanpa paksaan dan kekerasan.
Mengingat masa tugas itu tak luput dari kejenuhan, sebab itu berbagai kegiatan pun digalakkan agar tidak terasa monoton dan kaku. Kegiatan yang dilakukan sendiri, kata Ismed, seperti berkebun, berternak dan bersosialisasi dengan masyarakat dalam kegiatan-kegiatan positif. Selain itu, melihat Merauke yang rawan terhadap ancaman HIV dan AIDS, menurut Ismed, sebagai preventifnya semua kembali lagi pada keimanan dan ketaqwaan yang dimiliki masing-masing anggotanya. Dimana kata dia, iman dan taqwa merupakan bekal bagi seseorang untuk menghindari hal-hal negatif, salah satunya aktivitas yang bisa menyebabkan seseorang terinveksi virus mematikan itu.
“Tapi saya yakin anggota saya insya Allah semuanya aman, karena setiap saat mereka selalu diingatkan untuk mendekatkan diri dengan Tuhan. Dan kami sendiri punya kegiatan keagamaan, baik itu yang sifatnya rutin; sholat berjamaah bagi yang muslim, yasinan dan lainya,”papar Ismed.
Sebelum mengakhiri, Ismed kembali berharap semua upaya dan keingingan pihaknya untuk mengamankan, meningkatkan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Papua serta kegiatan positif yang dilaksanakan dengan tulus dan diselingi dengan penanaman nilai-nilai kewarganegaraan ini dapat menjadikan kesadaran masyarakat untuk bersatu padu membangun daerah perbatasan yang akhirnya melahirkan satu kekuatan benteng perbatasan yang siap menjaga kewibawaan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” pungkasnya. (http://bintangpapua.com)